Senin, 16 Januari 2012

BEBERAPA TINGKATAN BERIBADAH (sebuah konsep pidato)


2
 


                Assalamu’alaikum Wr.Wb…
                Alhamdulillah… Alhamdulillahirobbila’lamin. Assalatuawassalamualaasrafil ambiyaiwalmursalin sayyidina muhammadin waalaalihi wasahbihi ajmai’n ammaba’du.
                Pada tempat yang pertama patutlah kita naikan puja, puji dan syukur kehadirat Allah SWT, sang pemberi rahmat sekalian alam berkat-Nya kita semua dapat berkesempatan hadir pada malam hari ini guna melaksanakan agenda-agenda kemanusiaan kita, semoga apa yang kita lakukan hari ini senantiasa menjadi catatan amalun soleha di yaumil akhir nanti. Amin… amin ya… robbal a’ lamin. Amin.
                Selanjutnya shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan nabi besar kita Rasulullah Muhammad SAW, sosok yang menjadi suri tauladan bagi umatnya, sosok yang telah menggulingkan tikar-tikar kejahiliaan dan menghadirkan Islam sebagai agama yang kita peluk hari ini. Semoga beliau tetap mengakui kita sebagai umatnya baik di dunia maupun di akhirat nanti, serta senantiasa mendapat syafaat darinya di yaumil akhir nanti. Amin … amin yaa rabbal a’lamin. Amin.
                Hadirin yang dirahmati Allah…
Pada kesempatan yang berbahagia ini izinkanlah saya membawakan satu topic yang bagi saya cukup menarik untuk kita pahami bersama, tema yang saya angkat pada kesempatan kali ini adalah bagaimana tingkatan beribadah di dalam berislam. Beribadah diartikan sebagai bentuk penyembahan kita kepada Allah sang pencipta, serta bentuk pengembanan tugas kita sebagai khalifa fil ardh, sesuai dengan firman Allah yang dituangkan dalam teori-teori sacral-Nya yakni dalam Qur’an Surat Adjariyat ayat 56 yang berbunyi :
Wamakhalktuljinnawalinsa illa liya’buduun  yang artinya (dan Aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku)
Ayat di atas mengisaratkan kepada kita bahwa ternyata Tuhan menciptakan kita sebagai manusia bahwa tugas utama kita adalah melakukan peribadatan kepada Tuhan, saya tidak yakin kalau kita semua yang hadir di sini sudah memahami esensi dari penciptaan kita. Untuk itulah saya merasa terpanggil untuk membahas konsep ibadah ini,
Hadirin yang dirahmati Allah…
Saya mengklasifikasikan ibadah menjadi beberapa tingkatan, dengan demikian maka kualitas dari beberapa ibadah ini pun akan berbeda-beda. Dan pada kesempatan ini saya mengurutkan dari kualitas yang rendah ke yang tinggi. Mari kita dengarkan bersama- sama pembahasannya :

Yang I. Beribadah karena ingin dipuji.
Beribadah yang dikarenakan factor ingin dipuji orang adalah sesuatu hal yang sia-sia untuk kita lakukan, tendensi dari ibadah ini tentunya sangat kita sayangkan, namun realitas kebanyakan adalah banyak umat kita yang beribadah seperti ini, dan mungkin kebanyakan kita yang ada sekarang ini seperti ini. Saya contohkan : seorang dari kita selalu melakukan sholat denga niatan bahwa orang-orang yang melihatnya akan mengeluarkan puji-pujian misalnya anak ini rajin sekali, alim sekali dan sebagainya, apakah kita punya orientasi seperti ini.
Yang II. Beribadah karena ingin mendapatkan amal/pahala
Jika orientasi beribadah dengan mendapatkan pahala maka jika dicermati dengan baik ternyata kita sedang berdagang dengan Allah, disini ada untung ruginya, ada imbalan yang harus didapat setelah melakukan proses peribadatan, maka orientasi inilah yang perlu dirubah menjadi sebuah bentuk keikhlasan.
Yang III. Beribadah karena ingin meraih surga dan karena takut neraka.
Orientasi surga dan takut neraka adalah pemahaman kebanyak umat muslim, maka inipun juga bukan sebuah konsep keikhlasan, sehingga saya pernah mendengar syair yang pernah keluar dari salah satu tokoh Sufi yang terkenal yakni Rabiatul Al-Adabiah, bunyi syairnya yakni :
“ya, Allah jika aku beribadah kepadamu karena ingin mendapatkan surgamu, maka tutup pintu surga itu dan jauhkan surga itu dariku, tetapi jika aku beribadah karena takut nerakamu maka dekatkanlah neraka itu padaku”
Inilah sebuah komitmen dari tokoh Sufi ini karena kecintaannya kepada Allah.
Yang IV.beribadah karena semata-mata karena Allah (Lillahita’ala)
Inilah sebuah konsep keikhlasan dalam beribadah yang sesungguhnya karena semata-semata karena kecintaannya yang begitu tinggi  terhadap Allah, konsep lillahita’ala menggambarkan tidak adanya tendensi apapun terhadap apa yang ia lakukan namun yang ada dalam pikirannya hanyalah karena Allah Ta’ala.
Dengan demikian maka dari deskripsi di atas, marilah kita senantiasa memahami beberapa kalsifikasi ibadah di atas, serta merefleksikan diri apakah ibadah kita selama ini masuk dalam kategori yang mana? Mari kita murnikan ketaatan kepada Allah sesuai yang termaktub dalam Qur’an Surat Al-bayyinah ayat 5  yang berbunyi :
Wama umiruu illa liya’budullah hamukhlisinalahuddin hunafa awayuki mussala tawayu’ tuzzaka ta wajalika diinulqoyyimah.
Yang artinya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Kata murni dari ayat di atas bermakna ibadah yang betul-betul ikhlas yang tentunya berdampak pada kualitas ibadah yang sesungguhnya.
Hadirin yang dirahmati Allah…
Marilah kita luruskan niat kita yang benar sesuai dengan hadist Rasullah bahwa Innama a’malu binniat, sesungguhnya segala sesuatu bergantung pada niat.
Akhirnya, semoga kita sekalian dapat beribadah dengan ikhlas hanya kepada Allah.
Akhirulkalam. Wabillahittaufik walhidayah wassalamu’alaikum Wr.Wb…

RAMADHAN PEDULI DI KUANFATU (Sebuah safari rohani HMI Komisariat Kipma Undana & Madaris Institut NTT)


Pada bulan Ramadhan kali lalu, kami berinisiatif melakukan suatu kegiatan sosial keagamaan yakni melakukan safari ke Desa Kuanfatu-TTS. Niat kami pun dapat terlaksana berkat kerja sama yang baik serta bantuan dari beberapa donatur  di kota Kupang, barang-barang bantuan dari donatur seperti pakaian-pakian bekas dan buku-buku disimpan di Posko madaris Institut NTT kemudia pada saat keberangkatan dipindahkan ke sekretariat HMI cabang Kupang. Sekitar tanggal 18 Ramadhan H kami pun bertolak dari Sekretariat HMI dengan menggunakan bus, jumlah peserta dari kedua lembaga ini mencapai 30-an orang yang ternyata pas untuk satu bus.
            Selama dalam perjalanan terasa begitu jauh maklum jarak yang ditempuh sekitar 160-an km dari kota Kupang serta kondisi jalan yang kurang bersahabat,  di perjalanan kami pun tercengang dengan banyak sekali pemandangan indah yang dapat dinikmati, baik itu pegunungan, pepohonan, sungai, hamparan sawah serta pemandangan indah lainnya. sehingga kami sampai sekitar ba’da Isya, kami pun disambut bapak Imam dan jamaahnya dengan senang hati. Setelah itu kami diarahkan untuk menempati tempat yang telah disediakan, masjid  kecil yang terletak di pinggiran jalan itu ternyata menjadi kebanggaan jamaah setempat yang dipakai sebagai tempat ibadah baik itu shalat atau tempat memperingati hari-hari besar islam serta kegiatan keagamaan lainnya. Konon masjid ini dibangun oleh seorang kakek yang bernama Babus Sholeh sehingga namanya pun diabadikan dalam nama masjid ini yakni masjid Babus Sholeh Kuanfatu. Dalam keremangan malam bangunan kecil itu diterangi dengan pelita berbahan bakar minyak tanah yang diatur berjejer di dalam dan halaman masjid, maklum belum ada listrik bahkan di perkampungan ini pun listrik belum masuk kesana.
             Saya pun sedikit melamun dan refleksi sejenak bahwa bagaimana perjuangan saudara-saudara kita disini memperjuangkan kalimat La Ilahaillallah untuk tetap tegak di bumi Kuanfatu dengan fasilitas yang serba terbatas. Ini bukan perjuangan main-main. Kami pun berharap pihak-pihak terkait seperti Departemen Agama Propinsi NTT, Kabupaten TTS, MUI NTT, MUI TTS, serta ormas-ormasi Islam terkait dapat memperhatikan hal-hal semacam ini guna sedikit membantu beban jamaah kuanfatu.


            Setelah tiba kami pun menggelar acara penyambutan setelah shalat tarwih berjamaah serta memberitahu maksud kedatangan kami. Sambutan dari tuan rumah diwakili oleh bapak imam yang dalam sambutannya mengatakan bahwa : “kami sangat membutuhkan kunjungan seperti ini, minimal telah membuat kami bahagia dan merasa punya saudara seiman. Maklum kami disini masih sangat jauh dan masih sangat kurang pengetahuan agama. Tapi banyak juga yang muallaf. Kami sangat membutuhkan seorang guru ngaji atau guru agama yang berkenan mengajarkan anak-anak kami tentang agama. ”
Dari perwakilan kami dipersilahkan untuk menyampaikan sambutan terkait maksud dan latar belakang diadakannya kegiatan ini bahwa : “kehadiran kami disini tentunya yang pertama adalah misi silaturhmi dalam membangun ukhwah islamiyah antar sesama saudara muslim, selanjutnya kami juga ingin sekali berempati sejenak merasakan perjuangan dakwah di tempat ini serta sedikit memberikan sentuhan berupa bantuan buku-buku islami dan pakaian layak pakai yang dititipkan jamaah kota Kupang melalui kami, sedangkan terkait keluhan jamaah Kuanfatu yang disampaikan lewat bapak Imam akan kami diskusikan di tingkat yang lebih tinggi bagaimana solusi alternatifnya”.
Yang menjadi catatan penting dari pernyataan Imam serta kondisi riil yang dapat kami lihat ternyata persoalan utama ada pada masalah pendidikan terutama mengenai pendidikan agama, Al-qur’an, juz Amma dan buku-buku agama memang sudah cukup memadai namun yang paling penting adalah belum ada guru ngaji/ustadz yang siap untuk membimbing anak-anak generasi umat di Kuanfato. Sungguh keluhan ini menjadi sebuah tamparan sekaligus tantangan bagi kami serta kita semua sebagai pihak-pihak terkait  yang punya kepedulian sosial terhadap persoalan umat yakni bagaimana solusi konkrit yang harus diambil guna meminimalisir permasalahan ini?  Rangkaian kegiatan pun terus berjalan selama dua hari  mulai dari ceramah, tadarus bersama, kultum subuh, diskusi bersama, penyerahan bantuan secara simbolik, bakti sosial serta pengajian Al-qur’an dan latihan Shalat  serta doa sehari-hari bagi anak-anak jamaah Kuanfato, rasanya dua hari bukanlah waktu yang cukup dalam menggembleng cikal bakal generasi- generasi harapan umat Kuanfato, akan tetapi perlu adanya sentuhan yang sifatnya continue sehingga tidak sekedar mengetahui masalah kemudian lari dari masalah itu. Keakraban pun terjalin baik antara kami dan jamaah Kuanfato layaknya kaum ansor dan muhajirin yang disatukan oleh Rasulullah SAW, hal ini ditandai dengan bahu membahunya kami dalam melangsungkan agenda-agenda kegiatan yang telah dirancang dari Kupang.
Yang membuat kami merasa bangga adalah ada beberapa jamaah yang tinggalnya cukup jauh dari Masjid yakni sekitar 2 km, 3 km bahkan 6 km dengan kondisi fisik jalan yang cukup memprihatinkan serta jarak tempat tinggal antara jamaah pun umumnya saling berjauhan  namun semangat untuk ke Masjid melaksanakan ibadah shalat Tarwih dalam memeriahkan ramadhan di daerah Kuanfato cukup tinggi, hal ini membuat kami berfikir bagaimana jika jamaah kita yang di Kota tiba-tiba diberikan tantangan seperti ini apakah mereka sanggup atau tidak?
Militansi perjuangan dakwah ini memang sudah tertanam sejak orang-orang pertama yang membawa/menyebarkan Addinul Islam ke Amanuban Selatan bagian selatan ini yakni kakek Abu Soleh serta kedua saudaranya, sifat dan sikap inilah yang telah tertular pada anak keturunananya hingga hari ini demi terus menegakkan kalimat La Ilaha Illallah di bumi Flobamora ini. Semoga amal jariyah dari mereka senantiasa tetap mengalir walau mereka telah memenuhi panggilan Ilahi.
Seluruh peserta telah mengetahui bahwa tepat pukul 08.00 kami akan dijemput oleh Bus yang kami sewa, sehingga persiapan pembersihan diri mulai dilakukan sepagi mungkin dengan menikmati air kali Kuanfato yang tersedia dalam dua jenis berdasarkan suhunya yakni dingin dan panas.
Akhirnya, tepat pukul 08.00 bus telah tiba di halaman masjid pertanda kami harus berpisah dengan saudara/i kami, rasa kehilangan mulai menyelimuti hati dan alam pikiran kami dan jamaah bahkan ada beberapa jamaah yang meneteskan air mata harunya saat salam perpisahan terjadi, tak lupa kami berpose bersama jamaah sebagai tanda bahwa kami pernah menginjakkan kaki di bumi Kunfato.
Ada banyak hikmah yang dapat dipetik dari dua hari kegiatan ini diantaranya bagaimana pentingnya membangun silaturahmi, bagaimana seluk-beluk dan tantangan dalam berdakwah, pentingnya menumbuhkan empati sosial diantara sesama serta pentingnya dunia pendidikan bagi generasi muda Islam.
Selamat tinggal saudara/i… semoga Allah memberikan kesempatan lagi untuk kita saling memunaikan kerinduan berbagi…semoga kami dan orang-orang peduli yang lain akan kembali dengan membawa secercah harapan atas problematika yang terjadi di Kuanfato… Amin

IDENTIFIKASI 73 FIRQAH UMAT ISLAM YANG DISINYALIR HADIST


Golongan-golongan yang disinyalir dalam sebuah hadist bahwa “suatu saat umat Islam akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang akan masuk surga” membuat setiap individu muslim terus bertanya-tanya bahwa kategori golongan manakah dirinya ? secara rasional tentu orang akan berfikir umat Islam memiliki peluang yang sangat kecil untuk selamat di akhirat kelak bayangkan 1 :72 tentu ini peluang yang sangat kecil. Hadist ini juga sering dijadikan senjata bagi orang-orang yang tidak suka terhadap Islam untuk mematikan argumentasi umat islam bahwa Islam Rahmatallila’lamin.
            Secara historis kebenaran hadist ini terjawab lewat realitas yang terjadi di beberapa waktu lalu dan terus berlanjut hingga sekarang. Kita bisa lihat dua faham besar yang sudah bertentangan sejak beberapa abad yang lalu yakni aliran jabariyah dan qadariyah tentang persoalan ikhtiar dan takdir manusia dengan pionernya masing-masing, pertentangan pemikiran antara Imam Al-Ghazali yang mewakili kaum fundamentalis theologies dan Ibnu Rusyid yang mewakili Islam rasionalis, selain itu terjadi pertentangan antara Islam suni dan Islam Syiah mengenai perang pemikirannya, selain itu ada 4 mazhab yang ada dalam Islam diantaranya Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali yang dianut oleh umat Islam di seluruh dunia.  di Indonesia sendiri sangat nampak perbedaan antara Nadhatul Ulama (NU) yang mewakili Islam tradisional dan Muhammadiyah yang mewakili islam modernis dalam hal pemikiran dan cara beragamanya. Kita juga pernah mendengar klasifikasi Islam di Indonesia menjadi 3 bagian yakni Islam abangan, islam santri dan islam modernis apalagi sindiran Islam KTP yang terus terngiang di telinga kita yang tentu masih terasa hingga sekarang.
            Fenomena yang lain yang cukup mendasar juga adalah islam dipandang dari berbagai sisi yakni ada yang memandang sebagi sebuah ideology, ada yang memandang sebagai sebuah theology, ada yang menggabung keduanya sehingga mengahsilkan cara beragama yang tentu juga berfariasi diantaranya Islam dipandang sebagai alat politik untuk menghegemoni ideologinya, Islam dipandang hanya sebagai upacara ritualitas rutin beragama misalnya shalat, zikir, haji dan puasa. Serta dampak yang lainnya.
            Kita memang sangat kesulitan mengidentifikasi secara jelas satu persatu golongan-golongan dari 73 golongan itu, namun fakta empirik di atas menunjukkan dengan jelas ternyata ada perbedaan-perbedaan dalam beragama baik dari sisi cara pandang, fikir maupun berbuat sekalipun dalam satu agama samawi yang dinamakan Islam. Apakah hadist “perbedaan adalah rahmat” adalah jawaban dari semua ini ?
            Mungkinkah hadist lain yang mengatakan bahwa “Suatu saat umat Islam sangat banyak secara kuantitas tetapi mereka hanya seperti buih di lautan” adalah dampak dari perbedaan-perbedaan ini? Apakah terjadi pertentangan antara hadist-hadist ini ? apakah para pejuang, penghafal dan perawi hadis yang diantaranya Bukhari, Muslim, Abu Daud, Abu Khurairah serta yang lainnya melakukan perselingkuhan dalam merekayasa hadist-hafist ini ?.
            Untuk mengidentifiksai golongan-golongan ini perlu dilakukannya klasifikasi berdasarkan metode pohon faktor matematik, sehingga yang paling mendasarnya adalah mencari tahu akar dari perbedaan ini kemudian dari akar itu kita buat pohon permasalahannya, tentu menumbuhkan cabang-cabang hingga sampai ke ranting-rantingnya bahkan sampai ke pucuk-pucuk daunnya. Inilah salah satu metode yang ditawarkan guna berusaha menyebutkan dengan tegas dan jelas satu demi satu golongan dari 73 golongan yang disinyalir hadist tersebut. Sebagai indikatornya kita gunakan 3 kerangka berfikir yakni materialis, idealis dan tauhid serta 4 Mazhab berfikir dalam mencari kebebenaran yakni rasionalis, skriptualis, materialis dan metafisika islam. Karena bagaimanapun juga perbedaan cara pandang dalam beragama sangat dipengaruhi oleh kerangka berfikir awal dan mazhab berfikir individu yang beragama tersebut.
   Semoga dengan metode ini kita mampu menempatkan di manakah posisi kita sebagai calon peraih golongan utama yang akan selamat kelak?
           
Semoga kita tetap senantiasa istiqomah dalam menjalankan segala aturan Tuhan dan mengikuti sunah utusan-Nya…..

“AKSI KIPMA MEMBANGUN KREATIFITAS PENGEMBANGAN ASPEK PSIKOMOTORIK KADER “ ( Telaah dari aspek Pendidikan)


Apresiasi Kesenian Islam Kipma atau yang disingkat AKSI KIPMA adalah ajang kegiatan akbar Komisariat Kipma Undana yang melibatkan seluruh komponen HMI Cabang Kupang.yang senantiasa dilaksanakan pada setiap periode kepengurusan yang sifatnya continue. Secara historis kegiatan ini  sudah berjalan sekitar enam kali sampai pada AKSI KIPMA kali ini yang mengangkat thema : “Menumbuhkan Kreatifitas Seni dan Budaya Sebagai Rahim Dalam  Melahirkan Peradaban Islam” tentu punya tujuan- tujuan yang akan dicapai dari kegiatan ini diantaranya pengaktualisasian potensi kader, sebagai wadah silaturahmi dalam memperat ukhuwah diantara kader-kader himpunan serta sebagai momen dalam refresing intelektual. Berdasarkan pengalaman empirik selama penulis ber-HMI sejak tahun 2006 sudah tiga kali mengikuti kegiatan ini sehingga sedikit mengetahui seluk-beluk Aksi Kipma. Demikian sedikit pengantar dari penulis.
         Ada anggapan negative yang dialamatkan pada kegiatan AKSI ini bahwa kegiatan ini lebih bersifat hura-hura atau euforia semata selain itu yang lebih tragis ketika ada yang mengatakan kegiatan ini berbau hedonis dan membutuhkan bajet yang besar bahkan diusulkan untuk dihilangkan , memang anggapan ini beralasan secara kasat mata, akan tetapi perlu diperhatikan juga bahwa pada hakikatnya kegiatan ini merupakan sarana dalam mengembangkan kreatifitas kader-kader himpunan yang kita kenal dalam ilmu pendidikan yang disebut pengembangan aspek psikomotorik ( ketrampilan) selain itu AKSI KIPMA merupakan salah satu identitas KIPMA sehingga jika dihilangkan maka eksistensi komisariat ini akan dipertanyakan. Dalam ilmu pendidikan dikenal tiga ranah yang perlu dikembangkan secara proporsional demi tercapainya tujuan pembelajaran dalam diri seorang peserta didik (kader) ketiga ranah tersebut yakni ranah kognitif ( tingkat intelektualitas ), afektif ( sikap ) dan Psikomotorik ( ketrampilan ). Demikian halnya HMI sebagai sebuah institusi pendidikan (Universitas Idjo Itam) secara umum harus memperhatikan hal ini dan mampu mengintegralkan ketiga aspek ini dalam pedoman perkaderannya secara proporsional sehingga dapat menghasilkan out-put yang diinginkan yakni kader yang tidak hanya manjadi konseptor-konseptor sejati tetapi juga dapat menjadi eksektor-eksekutor dalam wilayah-wilayah praktis. Dalam konteks Aksi Kipma jelas merupakan kegiatan yang lebih menumbuhkembangkan aspek psikomotorik kader yakni melalui lomba-lomba diantaranya kaligrafi, festifal nasyid, theater Islami dan lomba MC, tetapi tentu tidak menafikan yang namanya aspek afektif yaitu sikap yang bersinggungan dengan teori belajar behavioristik yakni belajar adalah perbahan tingkah laku, sehingga mental dan karakter kader juga dibina disini melalui sikap kejujuran, tanggungjawab dan sportifitas masing-masing peserta, membangun tali silaturahim diantara sesama kader, menumbuhkan semangat ukhuwah islamiah, serta lebih memahami makna seni dan budaya islam yang sebenarnya, sedangkan kalau kita melihat dari segi kognitifnya tentu didapatkan  hal-hal yang dapat mengembangkan intelektualitas diantaranya pada mata lomba Da’i/Da’iah yang membutuhkan penguasaan konsep/materi serta retorika dan improvisasi materi yang akan dibawakan dalam waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas maka kita perlu menjawab kebutuhan kader dengan selalu ,mengembangkan kegiatan-kegiatan yang berbau ketrampilan demi keutuhan pembelajaran seorang kader himpunan. Mari kita bertarung secara sportif dan selalu menghendaki yang terbaik demi suksesnya kegiatan Aksi kipma ini karena yang tertanam dalam pikiran dan hati kita masing-masing hanyalah ”HMI Sang Hijau Hitam.”


RAK ; UPAYA MEMBANGUN EKSISTENSI PERKADERAN HMI


Rapat Anggota Komisariat (RAK) merupakan momentum pengambilan keputusan tertinggi di tingkat komisariat setidaknya diharapkan untuk selalu memproduksi keputusan-keputusan yang dapat mengarahkan kepada peningkatan institusi komisariat baik dari sisi kualitas dalam hal ini pengembangan kapasitas intelektual kader, sikap mental serta kemampuan kader dalam kerja-kerja nyata di lapangan. Komisariat sebagai wadah penggemblengan anggota tentu dibutuhkan strategi pembelajaran yang diterapkan untuk memanfaatkan semua potensi yang dimiliki kader. Penyiapan lapisan perkaderan tentu harus terus secara kontinue dilakukan di komisariat guna mengatasi krisis kader yang saat ini melanda HMI cabang Kupang. Untuk itulah dalam pesta demokrasi kali ini diharapkan mampu menjadi penentu arah Himpunan di Komisariat ini minimal lebih baik pada kepengurusan sebelumnya.
            Hal yang harus diingat bahwa semua tentu berharap banyak agar proses yang terjadi hari ini bersifat ilimiah dan dewasa dalam menyikapi segala perbedaan yang mungkin muncul dalam forum RAK yang sakral ini. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin dihindari karena perbedaan adalah bagian dari realitas yang harus kita sikapi secara arif dan senantiasa bermesraan dengan realitas perbedaan itu sendiri. Silang pendapat yang mungkin terjadi mulai dari pleno I hingga pleno IV, silang pendapat di Pleno III antara komisi A dan B dalam pembahasan arah kerja dan rekomendasi komisariat ini ke depan, perbedaan pendapat antara peserta peninjau dan utusan, antara sesama anggota bahkan dengan pengurus serta perbedaan pendapat lainnya, Semuanya itu harus dimaknai sebagai sebuah proses dialektika yang bisa mendewasakan pola pikir, sikap dan tindakan kita. Proses-proses kecil inilah yang kemudian akan terus membesarkan kita di komunitas idjo itam secara internal maupun secara eksternal nantinya. Selain itu juga dalam momen ini dilakukan evaluasi kinerja kepengurusan selama satu periodisasi sekaligus proyeksi ke depan kemana arah gerak organisasi ini? Kritik otokritik senantiasa kita galakkan demi terwujudnya pendewasaan diri serta perbaikan di hari-hari yang akan datang. Kelemahan di sana sini tentu harus ditambal sedangkan yang menjadi kekuatan tentu perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan. RAK juga adalah momentum peralihan tongkat estafet kepemimpinan, pergantian kepengurusan, pergantian personil yang akan menahkodai komisariat ini ke depan. Untuk itulah kepada seluruh utusan selayaknya melihat secara objektif siapakah yang layak memimpin HMI Komisariat Kipma Undana Periode 2010-2011? Banyak sisi yang harus kita lihat mulai dari track recordnya selama ini dalam berkontribusi untuk komisariat ini, kecerdasan intelektualitas serta kematangan emosional dan bahkan masih banyak lagi kriteria yang mungkin menurut kita dapat dijadikan parameter mengukur layak tidaknya seseorang menjadi 01 Kipma UNC.
            Sebagai salah satu tiang penopang HMI Cabang Kupang tentunya HMI Komisariat Kipma Undana terus berkontribusi menyumbangkan banyak kadernya untuk mengabdi di kepengurusan cabang, untuk itulah prestasi ini perlu dipertahankan tinggal bagaimana terus mengptimalkan kualitas dari kuantitas yang kita miliki. RAK hari ini perlu disusun suatu grand program yang lebih mengarah kepada format perkaderan yag lebih berkualitas sebagai salah satu misi penguatan internal di tubuh HMI sesuai dengan visi besar yang diangkat oleh Kakanda Formateur HMI Cabang Kupang. Realitas hari ini tidak bisa berbohong bahwa rata-rata cabang-cabang HMI di seluruh Indonesia mengalami masalah secara internal HMI itu sendiri, bagaiman kita bisa ekspansi keluar sementara secara internal masih sangat rapuh sehingga bagi saya masalah terbesar HMI ada di dalam internalnya sendiri. Mari kita cari solusi secara bersama untuk memproteksi sisi internal HMI. Banyak harapan yang kita inginkan namun diantara harapan-harapan itu tersimpan banyak rintangan dan cobaan yang berusaha mengancam kesolidan kepengurusan ini guna menjalankan roda organisasi dengan baik.   
            Harapan kami marilah kita ikuti sedetail mungkin semua proses RAK ini dengan hikmat, mungkin ada sesuatu yang bisa dipetik, mungkin ada sesuatu yang tak perlu untuk ditiru, mungkin ada solusi yang bisa kita usulkan karena semuanya hanyalah persembahan realitas dari Tuhan untuk kita kelola, mungkinkah kita mampu menjadi khalifah untuk mengelola semua realitas yang dipersembahkan-Nya itu? Ataukah kita hanya menjadi penonton yang menyia-nyiakan segala potensi yang Tuhan berikan kepada kita? Mari bergerak....
Akhirnya, hanya ucapan selamat ber-RAK XVII, semoga apa yang dihasilkan dalam momentum ini adalah keputusan yang berkualitas serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Konstitusi guna mencapai tujuan suci Himpunan . Yakin usaha sampai.

MAHASISWA & WACANA KEORGANISASIAN


Dalam defenisi organisasi yang sering terdengar di telinga kita bahwa organisasi merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang berjuang bersama sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dan memiliki tujuan bersama yang hendak dicapai. Dengan defenisi di atas dapatlah dilihat bahwa ada beberapa unsur pembentuk organisasi yakni orang/kader/oknum, mekanisme/pedoman/aturan serta tujuan organisasi. Banyak sekali jenis organisasi dengan karakter dan tujuan yang berbeda-beda serta dengan latar belakang yang berbeda-beda pula yang saat ini tumbuh menjamur di dunia, Indonesia, NTT hingga ke Kota Kupang ini bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa. Di segala lini kehidupan tanpa kita sadari kita telah melakukan kerja-kerja organisasi misalnya di sekolah, di rumah, di lapangan bola kaki, di kantor, di laut ; sekolah ada sistem organisasinya dengan pimpinannya adalah kepala sekolah, di OSIS ada Pengurus OSIS, di rumah ada kepala keluarga, di lapangan bola kaki ada kapten keseblasan, di kantor ada kepala kantor, di laut ada juragan motor atau kapten kapal. Semuanya  sebenarnya sedang dan telah menjalankan sistem organisasi, semuanya bekerja bersama dalam satu tim dengan pemimpinnya serta memiliki aturan tersendiri yang harus dipatuhi oleh semua oknum yang terlibat dalam satu sistem organisasi itu, selain itu semua memiliki visi misi yang sama dikarenakan mempunyai kepentingan yang sama.
            Sebenarnya dalam sistem yang ada dalam tubuh kita juga adalah satu sistem organisasi yang bekerja secara otomatis (misalkan sistem saraf manusia) yang sebenarnya kalau dimaknai ternyata organisasi adalah hukum sunatullah sehingga mengapa manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain? mengapa organ-organ yang ada dalam tubuh kita harus saling melengkapi guna menjalankan tugas dan fungsinya guna mencapai tujuan kehidupan suatu organisme manusia secara normal. Kalau kita sedikit berfikir nakal ternyata Tuhan pun memakai sistem organisasi, mengapa Tuhan harus menjadikan 10 jenis malaikat untuk membantunya sesuai dengan tugasnya masing-masing? Mengapa Tuhan harus mengutus 25 orang rasul untuk menyampaikan risalah di bumi? Apakah memang Tuhan itu memiliki keterbatasan? Sebenarnya semuanya adalah ayat-ayat kauniyah Tuhan yang memberikan pelajaran kepada manusia untuk senantiasa hidup bersosial dengan berorganisasi. Mengapakah kita tidak mengikutinya padahal telah dicontohkan sang Khalik yang Maha Sempurnah itu sendiri.
            Banyak sekali jenis organisasi diantaranya, Yang Pertama adalah organisasi Nasional yang di dalamnya ada organisasi kemahasiswaan secara nasional (GMKI, HMI, PKRI, LMND, GMNI, IMM, PMII dll), organisasi kepemudaan secara nasional (KNPI, AMPI, Pemuda Muhammadiyah, BP GMIT,GP Ansor dll), organisasi kemasyarakatan secara nasional (NU, Muhammadiyah, Nasional Demokrat, LSM Nasional, Kontras dll), Yang Kedua adalah organisasi kedaerahan diantaranya organisasi mahasiswa lokal (IPMAL, IMAPEM, KEMAHNURI dll), organisai kepemudaan lokal (AMA dll), organisasi kemasyarakatan lokal (LSM lokal, IKKA, POT).
            Saat ini kita adalah manusia dengan status “mahasiswa” jika kita kaitkan dengan organisasi maka ada beberapa jenis organisasi kemahasiswaan yakni organisasi mahasiswa intra kampus, ekstra kampus (Lokal dan Nasional), dan semi intra kampus. organisasi intra kampus adalah organisasi yang diakui secara hukum di kampus yang bersangkutan, misalkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) yang pergerakannya hanya dalam kampus bersangkutan, untuk organisasi semi intra kampus seperti KMK (Kerukunan Mahasiswa Katholik), PMK (Perhimpunan Mahasiswa Kristen), FOSMI (Forum Silaturahmi Mahasiswa Islam), FOKMI, IMIP, ROHIS, dll yang statusnya belum jelas secara hukum di mata pihak rektorat kampus. sedangkan organisasi ekstra kampus terbagi menjadi dua yakni secara lokal dan nasional, secara lokal misalkan di NTT saat ini hampir setiap kabupaten telah mendirikan organisasi kenahasiswaannya masing-masing, sedangkan secara nasional kita telah mengenal ada GMNI, GMKI, HMI, PMKRI, LMND, PMII, IMM yang wilayah kerjanya secara nasional. Organisasi ekstra kampus inilah yang sering terjadi persaingan baik secara intelektual, startegi pergerakan dan parameter lainnya yang menjadi acuan untuk mengukur kualitas output kader suatu organisasi.  
            Mahasiswa sebagai suatu entitas dalam dinamika kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara tentu sangat erat kaitannya dengan wacana organisasi, seakan-akan wajib bagi seorang mahasiswa untuk berorganisasi guna menyempurnakan status kemahasiswaannya sebagai agent of Change, sosio control, moral force.
            Begitu banyak organisasi kemahasiswaan yang ada lantas jika kita tidak pernah memilih bergabung dan aktif di salah satu organisasi adalah suatu sikap yang sangat disayangkan, karena begitu banyak manfaat berorganisasi terlepas dari beberapa anggapan streotip tentang organisasi, untuk itulah mari kita pilih minimal salah satu dari tiap organisasi kemahasiswaan yang telah dipaparkan di atas guna mengasa segala kemampuan yang ada dalam diri kita guna kelak dapat diabdikan dimana kita hidup bersosial.
YAKIN USAHA SAMPAI
*) KETUA BIDANG PEMBINAAN ANGGOTA & APARATUR ORGANISASI
Disampaikan pada kegiatan Masa Perkenala Calon Anggota (MAPERCA) HMI Komisariat WIDYARMAN, Minggu, 22 Mei 2011 di Masjid Nurussa’dah Fontein-Kupang



Makna sapaan mesra “ABANG”


Abang adalah kata yang tidak asing lagi dalam lingkup HMI,  seperti halnya “bung” bagi kader-kader GMNI, “om” bagi organisasi GMKI, “Akhi” bagi kader-kader KAMMI. Sapaan ini sebenarnya secara kasat mata dapat semakna dengan kraing dari Manggarai, moat dari Maumere, boma dari Alor, umbu dari Sumba, ama dari Sabu, daing dari Bugis serta mas dai Jawa dan sebagainya. Sapaan abang telah menjadi tradisi yang mengakar entah sejak kapan sapaan ini mulai diterapkan di HMI karena penulis sendiripun belum mengetahui secara pasti para faunding father meletak dasar sapaan ini. Sapaan yang dialamatkan kepada para HMI-one atau oleh teman-teman dari HMI Cabang Kupang menyebutnya dengan nama KOHACO alias Korps HMI-Cowok ini konon merupakan bentuk protes terhadap adanya lembaga KOHATI (Korps HMI-Wati) yang merupakan lembaga semi otonom HMI, akan tetapi bagi penulis dari kacamata maskulinitas bahwa kalau sampai ada wadah atau badan yang namanya KOHACO itu terbentuk maka dengan sendirinya akan melegalkan kelemahan kaum adam yang ada di HMI untuk perlu diberdayakan seperti pada bidang pemberdayaan perempuan.
“Abang” bukanlah sekedar panggilan misalnya untuk seorang pemuda dari jawa atau sebagai seorang penjual bakso yang sering disapa abang bakso, abang bukan sekedar lawan kata dari dinda atau yunda, abang bukanlah sekedar simbolisasi sapaan antara kader-kader Himpunan, antara junior dan seniornya, atau antara sesama letting, tetapi sapaan abang memiliki makna tersendiri yang mendalam bagi kader Himpunan yakni memiliki muatan nilai (value) bagi si pemberi sapaan dan yang disapa artinya nuansa kebersamaan, rasa saling menghormati dan keharmonisan dapat dibangun lewat sapaan ini. Sapaan abang memiliki beban tersendiri bagi kader-kader yang mengaku dirinya telah pantas dipanggil abang sehingga kita harus menyadari bahwa kita akan pantas dipanggil abang oleh junior-junior kita apabila kita telah memiliki sesuatu yang baik yang dapat dijadikan panutan bagi kader-kader yang lain, kita harus sudah memiliki akhlak, moralitas dan karakter diri yang baik sehingga kata abang yang selalu melekat di depan nama kita senantiasa sinergis dengan sikap dan perilaku sehari-hari. Ketika menjadi senior seharusnya malu jika kita tidak mampu memberikan contoh yang baik pada adinda-adinda kita yang sedang berproses di wadah tercinta ini karena sesungguhnya organisai ini adalah organisasi pembelajran yakni disamping kader-kader belajar secara otodidak kader juga sedang belajar dari kader-kader lain yang sedang belajar juga.
Bagi kader-kader yang memahami betul makna yang tersirat maupun tersurat dari kata “Abang” akan merasa sangat nyaman dan merasa sangat dihargai ketika sapaan itu datang kepadanya, entah kenapa kata Abang itu lebih indah dibandingkan dengan kata “kakak, adik, saudara, bapak, dan sebaginya ”. perasaan berbeda ketika kita ingin tahu perbedaan rasa dengan sapaan-sapaan tadi dapat dibuktikan dengan senior-senior HMI yang telah sukses, baik sebagai pengusaha bahkan pejabat besar sekalipun akan lebih menerima jika junior-juniornya memanggilnya abang, ia lebih memilih dipanggil tanpa gelar (sarjana, master, doctor maupun professor) karena lebih menghargai sepenggal kata “abang”. Itulah sebuah keajaiban dan daya magic dari kata “abang”. Untuk itulah di akhir tulisan ini penulis ingin mengajak kita semua sebagai kader umat kader bangsa khususnya dalam scope HMI Cabang Kupang un tuk senantiasa selalu menumbuhkan dan membiasakan sapaan-sapaan mesra itu dalam keseharian antar seasama kader guna membangun ukhuwah HMI yang lebih kuat. Amin...........................................................................................................
  

Hasil perenungan di Kos Idjo Al-Fitrah Oesapa